MUSIM TELAH BERGANTI


Dia sakit!!
Susah payah aku mengumpulkan kembali serpihan-serpihan itu.  Sungguh agak sulit pada mulanya.  Tapi ku paksakan.  Aku merasa tersiksa, tapi kemudian perasaanku berangsur tawar.  Kubayangkan semua yang masih tersisa.
            Rambutnya, matanya yang sering menatapku tajam, bentuk hidungnya - sampai gerak-geriknya ketika bicara ketus.
            Dia sakit!! Terngiang-ngiang lagi laporan Febri.  Kini, bayang-bayang itu menyuram.  Rambutnya mungkin kusut, hidungnya jelek, dan juteknya hilang sudah. Ia menjadi makhluk setengah tampan yang tak berdaya kini.  Tubuhnya lemah, mukanya pucat.  Terlentang tak berdaya, berselimut rapat-rapat.  Mungkin menggigil karena demam. 
            Seperti apa dia sekarang?
            Febri telah sejam yang lalu menginggalkan kelasku, membiarkan aku kembali menikmati kesendirianku.  Dan aku tidak juga berbuat apa-apa, kecuali bermain-main dengan lamunan dan bayangan.
            “Masa sih kamu tega membiarkannya begitu?”
            “Tapi Feb…” tukasku sejam yang lalu.
            Febri menatapku dengan pandangan yang sayu seperti biasanya, lalu berkata dengan nada lembut –seperti biasanya juga- tidak mencecar-  
            "Ayolah, jenguk dia!! Dia sangat membutuhkanmu kali ini. Buang semua egomu"
---Bersambung---

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar